December 15, 2014

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah berlaku selama kurang lebih 6 tahun. Kurikulum 2013 masuk dalam masa percobaan di tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah menjadi sekolah percobaan. Di tahun 2014, Kurikulum 2013  sudah diterapkan di Kelas I, II, IV, dan V sedangkan untuk SMP Kelas VII dan VIII dan SMA Kelas X dan XI. Diharapkan, pada tahun 2015 telah diterapkan di seluruh jenjang pendidikan.

Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb, sedangkan materi yang ditambahkan adalah materi Matematika. Materi pelajaran tersebut (terutama Matematika) disesuaikan dengan materi pembelajaran standar Internasional sehingga pemerintah berharap dapat menyeimbangkan pendidikan di dalam negeri dengan pendidikan di luar negeri.

Namun menjalankan kurikulum 2013 masih terasa sulit bagi sebagian besar institusi pendidikan, bagaimana tidak, konsep kurikulum 2013 sendiri terbentuk karena Menurut perwakilan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud Zulfikri Anas, hasil monitoring dan evaluasi Kemendikbud menunjukkan, banyak sekolah yang tidak mampu membuat KTSP.
Ketidakmampuan dalam membuat KTSP ini lah yang memicu pemerintah untuk mengganti Kurikulum 2013. Salah satu keluhan guru adalah sistem penilaian yang dinilai terlalu rumit. Dalam kurikulum 2013, guru harus melakukan tiga set penilaian terhadap siswa, antara lain penilaian sikap, penilaian kognitif, dan penilaian keterampilan.

Masing-masing set penilaian masih dijabarkan lebih banyak, misalkan set penilaian sikap yang terdiri atas penilaian observasi (kedisiplinan, kejujuran, peduli lingkungan, dsb), penilaian diri, penilaian teman sejawat, dan penilaian jurnal. Sistem penilaian yang banyak dan rumit tersebut harus diterapkan guru pada masing-masing siswa, per mata pelajaran, dan per kompetensi dasar.

Banyak sekolah mengadakan seminar-seminar yang berhubungan tentang kurikulum 2013 serta cara penilaian autentik untuk menunjang pengetahuan guru dalam pengisian rapot pada kurikulum 2013. Namun tentu saja, guru tidak bisa secepat itu beradaptasi dengan banyaknya perubahan yang terjadi, sehingga penerapan kurikulum 2013 di mayoritas sekolah bisa di kategorikan dalam tahap ‘sedang belajar’.

Melihat fenomena ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyatakan menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 bagi sekolah-sekolah yang baru melaksanakan kurikulum ini selama satu semester pada tanggal 5 Desember 2014.Kurikulum 2013 berkemungkinan untuk diterapkan kembali setelah dikaji ulang, dievaluasi, dan diperbaiki. Dengan begitu, nilai-nilai positif dan kelebihan kurikulum 2013 bisa diterapkan secara maksimal oleh guru untuk kebaikan para siswa

Sumber :

news.okezone.com
www.merdeka.com
id.wikipedia.org

Share This:

Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *