June 26, 2013 implementasi-featured

Manusia adalah makhluk visual. Image atau pencitraan yang terjadi pada benak manusia dibentuk dari apa yang ia tangkap melalui indra penglihat.

Dalam desain terdapat dua jenis pesan yang dikemas oleh desainer. Pesan tersebut adalah pesan tersurat dan tersirat. Janis Pesan tersurat adalah pesan-pesan yang mengandung simbul dari kesepakatan umum tentang bentuk visual seperti hijau yang berarti alam, biru kesejukan, merah berarti panas, dan sebagainya. Pesan-pesan tersirat inilah yang harus dimiliki oleh setiap karya desain yang selaras dengan pemahaman dari target desain tersebut.

Pesan tersurat sangat penting dalam desain berskala umum, karena unsur inilah yang akan membedakan antara karya seni dan karya desain. Di mana kedua bidang tersebut bias memiliki kesamaan dalam bidang estetika namun harus memiliki tujuan yang berbeda dalam hal pesan. Ketika seni  mengantarkan pesan yang dimaknai berbeda oleh setiap penikmatnya, maka desain harus menyampaikan pesan yang sama kepada semua audience yang menjadi target pasarnya. Misalkan jika desainer merancang sebuah logo yang ceria, maka setidaknya semua orang yang melihat logo tersebut harus sepakat bahwa logo tersebut membawa pesan ceria dan jika orang yang melihat logo tersebut beranggapan sama seperti apa yang ingin disampaikan oleh desainer, (yaitu ceria) maka desain tersebut bias dikatakan berhasil. Akan tetapi berbeda dengan seni, di mana orang yang melihat karya seni bebas menilai apapun tentang karya tersebut karena dalam seni, ekspresi lebih diutamakan ketimbang pemahaman yang sama.

Logo Feedex
Logo Feedex

Sedangkan unsur kedua dalam desain adalah pesan tersirat. Sebagaimana layaknya sebuah konsep desain, tidak semua pesan disampaikan secara gambling ada beberapa konsep atau pesan yang disimpan oleh desainer yang hanya dimengerti oleh kalangan tertentu (tentunya setelah pesan pertama terpenuhi) salah satu contoh dari konsep pesan tersirat ini adalah pesan yang terdapat dalam logo Fedex oleh Walter Landon dan Amazon. Dalam logo Fedex, pesan yang tersurat mungkin dapat dilihat bahwa itu adalah logo yang simple dan praktis sebagai bentuk representasi perusahaan, akan tetapi desainer menyembunyikan sebuah bentuk tanda panah di antara huruf “E” dan “x”. Begitu juga pada logo Amazon yang memiliki symbol tanda panah atau senyum di bawah hurufnya yang menandakan bahwa Amazon sebagai took online menyediakan semua barand dari A (pangkal tanda panah) hingga Z (ujung tanda panah) dan itulah yang disebut sebagai pesan tersirat.

Logo Amazon
Logo Amazon

Desainer selain sebagai konseptor dalam merumuskan pesan tersurat yang berkaitan dengan skill estetik juga harus mampu menyampaikan pesan tersirat dalam bentuk presentasi. Dalam program Binus dikenal adanya kelas Implementasi sebagai nama dari bentuk Tugas Akhir, di mana siswa tidak hanya dituntut memiliki skill dalam mendesain grafis, namun juga dilatih sebagai presenter karya yang baik. Hal tersebut dikarenakan para siswa akan menjalankan sebuah simulasi kelas di mana mereka akandihadapkan pada sebuah permasalahan desain, dan instruktur akan berperan sebagai klien yang akan memberikan masukan dan tantangan berupa permasalahan yang mungkin akan di hadapi di dunia nyata. Dan sebagai puncaknya siswa diminta untuk mempresentasikan hasil karyanya melalui sebuah proses pitching dengan harapan Binusian memiliki kecakapan dalam hal mempresentasikan karya desain dengan cara yang meyakinkan.

Menjembatani keinginan klien dengan prinsip Sinektika

Dalam dunia nyata seringkali desainer menghadapi tantangan berupa klien yang memiliki permasalahan desain. Sayangnya beberapa klien tidak mampu menggambarkan rancangan desain yang dinginkanya yang membuat beberapa orang tersebut akan membawa contoh desain yang menyerupai desain yang mereka harapkan.

Dari proses tersebut tidak terdapat masalah. Namun tantangan baru akan ditemui ketika klien tersebut menginginkan karya desain yang benar-benar sama dengan referensi desain yang mereka bawa. Sebagai desainer selayaknya juga memiliki kemampuan dalam hal bargaining. Di mana desainer tidak hanya menjadi pihak visualizer yang akan menuruti semua permintaan klien. Akan tetapi desainer yang baik juga harus mampu mengedukasi atau mengarahkan permintaan klien sesuai dengan esensi dan kaidah desain yang telah ia pelajari.

Dari semua kaidah desain tersebut salah satu yang terpenting adalah tindakan mencomot visual secara gambling atau dalam bahasa hokum disebut plagiarism. Dalam kasus di atas di mana klien menginginkan karya desain yang menyerupai bentuk referensi visual yang diinginkan, desainer harus mampu memberikan pilihan desain yang dapat terlepas dari bentuk contoh yang dibawa oleh klien tersebut. Salah satu caranya adalah memberikan altrnatif desain dari yang hamper mirip hingga benar-benar baru terlepas dari bayangan desain yang ada.

Namun ketika klien bersikeras untuk tetap meniru gaya desain contoh yang ia bawa, ada satu istilah yang apat digunakan dalam menjawab permasalahan tersebut. Hal tersebut adalah dengan menggunakan prinsip sinektika. Sinektika berasal dari bahasa yunani “Synectikos” yang artinya adalah menyatukan hal yang tercerai berai menjadi suatu kesatuan yang utuh. Dengan kata lain sinektika dapat diaplikasikan dengan menggabungkan beberapa elemen visual dan konsep yang telah ada sehingga menjadi bentuk visual yang benar-benar baru. Hal tersebut seperti yang terjadi pada konsep logo yatra.com dan pepsi. Logo tersebut dapt menjadi contoh studi kasus (bukan berarti salah satu logo meniru bentuk lain, hanya sebagai perumpamaan).

Perumpamaanya adalah jika desainer ingin menggunakan elemen visual yang ada pada logo pepsi, maka ia harus melakukan modifikasi hingga menjadi bentuk baru dengan melakukan modifikasi mulai dari bentuk warna hingga penambahan elemen visual seperti pada logo Yatra tersebut.

Dan pada akhirnya jika klien masih bersikeras  meminta logo yang sama maka desainer disarankan membuat sebuah desklaimer bahwa hal tersebut merupakan di luar tanggung jawab desainer dan setidaknya desainer sudah memberitahukan kepada klien. Sehingga jika terjadi hal yang kurang baik desainer mampu menggunakan deslklaimer tersebut sebagai pembelaan diri. Kreativitas bias dibentuk dan dilatih dengan melakukan belanja visual karena dalam hal desain desainer harus memiliki kosa visual.

Ditulis Oleh Erik Armayuda (Instruktur Creative Graphic Design Binus center bandung)

Binus Center Bandung & Bintaro lembaga kursus & pelatihan komputer menyediakan materi-materi kursus desain grafis yang disusun sesuai dengan trend teknologi terbaru serta berstandar internasional. Dan jangan khawatir bingung setelah lulus mau kerja dimana!! Binuscareer akan memberikan bantuan informasi mengenai lowongan pekerjaan bagi binusian.

Share This:

Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *